Jumat, 22 Februari 2019
KHADIJAH SANG ISTERI TANGGUH
KHADIJAH SANG ISTERI TANGGUH
Setelah rentang waktu yang singkat, Sayyidah Khadijah mengirim surat kepada nabi Muhammad Saw untuk mengundang baginda. Lantas baginda nabi pun bergegas memenuhi undangan Khadijah dengan ditemani Hamzah dan Abi Thalib yakni kedua putra Abdul Muthalib.
Di sana, di kediaman Sayyidah Khadijah, kedatangan mereka telah di tunggu-tunggu oleh keluarga Khadijah. Segala sesuatu pun telah dipersiapkan untuk acara pernikahan nabi Muhammad Saw dan Sayyidah Khadijah yang akan segera dilaksanakan. Abu Thalib pun memulai pembicaraan....’amma ba’du “sesungguhnya Muhammad tergolong pemuda yang jika dibandingkan dengan pemuda Qurasy lain Ia akan mengungguli mereka dari segi kemuliaan, keagungan, keutamaan, dan akalnya, meski dari segi harta Muhammad sangatlah minim. Tapi tak apalah karena harta hanyalah bayangan yang akan sirna, dan hanya pinjaman yang suatu sa’at akan di kembalikan. Muhammad ini memiliki rasa ketertarikan pada Khadijah, dan begitu pula sebaliknya Khadijah juga memiliki rasa ketertarikan yang sama.
Amr bin Asad bin Abdil Izzi bin Qushay (pamannya Khadijah) pun memuji nabi Muhammad Saw, dan mengumumkan atas diterimanya pernikahan dengan mahar 20 ekor unta. Setelah akad usai, hewan ternak yang telah disembelih dan di masak pun di hidangkan, rebab pun juga telah dimainkan, pintu kediaman Khadijah pun telah di buka untuk segenap sanak famili dan para sahabat. Di sana juga nampak hadir Halimah as-Sa’diyyah yang baru sampai dari perkampungan Bani Sa’ad untuk sekedar menyaksikan pernikahan putra susuannya. Ketika Halimah pulang Ia membawa 40 kepala domba hadiah yang diberikan Khadijah untuk ibu yang telah menyusui suaminya tercinta.
Bagaimana Khadijah tidak memuliakan Halimah, sedangkan Ia melihat suaminya yang agung menyambut kedatangan ibu susunya dengan rasa gembira, nabi pun dengan rasa hormat melebarkan selendang untuk ibu susunya sehingga Halimah duduk di dekatnya. Kemesraan itu, menyentuh perasaan Khadijah sehingga kedua matanya haru berlinang air mata. Itulah sebabnya Khadijah tak sungkan-sungkan memberi hadiah untuk ibu yang telah menyusui suaminya dengan hadiah yang tergolong banyak.
Khadijah menikahi nabi Muhammad sa’at ia berumur 40-tahun, sedangkan nabi baru berumur 25-tahun. Kedua mempelai pun hidup bersahaja dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tumbuh dan menancap di keduanya. Khadijah pun semakin tahu, bahwa nabi Muhammad Saw adalah sosok suami yang terpercaya melebihi suami mana pun, sebagai mana Khadijah telah mengenalnya sebagai orang yang paling terpercaya melebihi siapa pun.
Selama 15-tahun mereka berdua menikmati cinta dan kesetiaan sehingga tenggelam dalam kebahagiaan. Allah pun melengkapi kebahagiaan mereka dengan menganugerahi keduanya putra dan putri, yaitu: Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum, dan Fatimah RA. Tetapi sepasang suami istri ini kehilangan dua putra tercintanya (Qasim, dan Abdullah) sa’at masih balita. Mereka berdua pun akhirnya mengikhlaskan kepergiannya. Yang tersisa hanyalah keemapat putrinya saja.
Dan dari sebagian bentuk cinta kasih di antara keduanya, Khadijah selalu memberi kebebasan kepada baginda nabi Muhammad Saw untuk beribadah sesuka hati. Hingga nabi bisa pergi ke Gua Hira untuk berkhalwat dan mentafakuri ciptaan Allah yang telah menciptakan segala sesuatu. Dan di sana juga nabi mengingkari penyembahan berhala yang memenuhi Ka’bah oleh orang-orang yang tak berpikir dan tidak pula mendapat petunjuk.
Kelembutan Khadijah selalu menyelimuti suaminya dalam setiap langkah hidupnya. Khadijah tak pernah menentang kebiasaan nabi berkhalwat yang jauh dari rumahnya sepanjang Ramadan yang hari-hari nya dipilih nabi untuk berkhalwat. Tetapi sebaliknya Khadijah selalu mengutus orang untuk menjaga nabi dari belakang. Nabi pergi ke Gua Hira agar dapat menenangkan hati dalam khalwatnya. Nabi memilih Allah dan meninggalkan keluarganaya, agar dapat menenangkan diri nya bersama Allah.
Setelah wahyu turun padanya di malam lailatul qadar pada saat baginda berada di Gua Hira. Pagi-pagi baginda nabi bergegas pulang ke rumah dalam keadaan takut, wajahnya pucat, dan hatinya bergejolak. Tapi saat baginda tiba di pelukan Khadijah rasa takut itu seketika hilang darinya entah ke mana. Lalu nabi menceritakan pada Khadijah segala sesuatu yang terjadi pada malam itu dengan suara yang menggigil. Dan hilanglah sudah rasa takutnya di samping Khadijah. “sungguh aku sangat mengkhwatirkan diriku” dan nabi pun mendekapkan dirinya ke pelukan Khadijah. Khadijah pun membisikan rasa percaya diri dan keyakinan. “Allah pasti akan menjaga kita wahai Abu Qasim, maka berbahagialah ! Demi tuhan yang mana jiwa Khadijah ada di tangannya sesungguhnya aku berharap engkau menjadi nabi umat ini. Demi Allah, selamanya Allah tidak akan mempermalukanmu... sesungguhnya engkau akan menyampaikan kasih sayang, benarkanlah ucapan, dan pikullah semuanya, buatlah tamu percaya, dan bantulah para penyampai kebenaran!.”
Nabi Muhammad Saw pun telah merasa lega dan tenang. Khadijah menuntunnya perlahan menuju kasurnya. Khadijah memperlakukan baginda secara lembut sebagaimana ibu terhadap anaknya. Tatkala nabi telah beristirahat dalam tidur yang lelap. Khadijah merangkak dari sisinya, dan pergi menemui anak pamannya (Waraqah bin Naufal) ia termasuk orang yang mengingkari penyembahan berhala dan ia juga mempelajari kitab-kitab samawi. Kepadanya Khadijah menceritakan apa yang terjadi pada hari itu. Waraqah bin Naufal seketika berdiri sambil berkata dengan penuh semangat “Qudus Qudus.. demi tuhan yang jiwa waraqah ada di tangannya. Wahai Khadijah jika kau percaya padaku sesungguhnya telah datang padanya Namus al-Akbar yang pernah mendatangi Musa dan Isa. Katakanlah padanya dan tegarkanlah dia!.”
Sebelum memperhatikan selebihnya ucapan Waraqah, dan sebelum menyiapkan sepatah kata pun darinya, Khadijah langsung pergi menemui suaminya untuk memberi kabar gembira. Sebelum Khadijah menuntaskan kabar gembira dari anak pamannya. Baginda nabi mendadak pening. Ia pun melihat tempat tidur dan berkata pada Khadijah “siap-siaplah tidur dan istirahat! Sesungguhnya Jibril telah memberiku mandat untuk memberi peringatan kepada orang-orang, dan mengajak mereka kepada Allah agar menyembahnya. Siapa yang akan aku ajak, dan siapa yang akan memenuhi ajakanku?” . Seketika Khadijah menjawabnya dengan perangai wanita mukmin yang jujur “aku akan memenuhi ajakanmu wahai Muhammad..! maka ajaklah aku sebelum engkau mengajak orang lain. Sungguh aku akan menyerahkan diri padamu dan membenarkan kerasulanmu dan beriman pada tuhanmu”.
Lalu nabi Muhammad Saw beranjak menemui Waraqah bin Naufal. Saat Waraqah melihatnya ia berteriak “demi tuhan yang jiwaku ada di tangannya sungguh engkau adalah nabi umat ini yang akan menganggapmu bohong, menyakiti, mengusir, dan memerangimu. Jika saja aku masih bertemu hari esok aku pasti akan menolong Allah dengan pertolongan yang ia tahu”. Nabi mendekatkan kepalanya pada Waraqah dan mengecup ubun-ubunnya, nabi pun berkata ‘atau aku yang akan mengeluarkan mereka’ (mengeluarkan mereka dari kekafiran). Waraqah menjawab ‘iya, tak seorang pun membawa apa yang kau bawa terkecuali dia harus berdakwah’, andaikan aku masih sempat berdakwah, dan andaikan aku masih hidup’.
Hati nabi Saw akhirnya menjadi tenteram atas apa yang ia dengar dari Waraqah. Nabi pun tak ragu untuk menyebarkan dakwahnya. Walau kaumnya sendiri memusuhi, baginda nabi tidaklah peduli dengan rasa sakit yang mereka lemparkan padanya di jalan dakwah. Sedikit pun tak ada rasa ujub dalam berdakwah. Dialah nabi yang bergelar ulul-azmi, yakni nabi yang senantiasa selalu bersabar atas cobaan dalam menyampaikan risalah yang bisa mengeluarkan umat manusia dari gelapnya kemusyrikan menuju terangnya keimanan dengan ijin tuhannya.
Sayyidah Khadijah sang istri tercinta selalu setia di sisi nabi Saw untuk menolong dan menguatkan hatinya. Tidak hanya itu Khadijah ikut andil pula menanggung kerasnya bermacam-macam cobaan dan penganiayaan yang di lakukan mereka selama beberapa tahun. Orang Quraisy selalu bersikap kasar pada Bani Hasyim dan Bani Abdil Muthalib yang mengikuti ajakan nabi Muhammad Saw. Mereka selalu mendiskriminasi pengikut nabi dengan mendesak orang-orang yang beriman agar keluar dari kota Makkah. Mereka pun memboikot golongan Abi Thalib di pojok kota. Kafir Quraisy mengumumkan pemboikotan terhadap mereka dalam selembar surat yang digantungkan di tengah Ka’bah . Dalam surat itu tertulis agar orang-orang Quraisy tidak berniaga dengan pengikut nabi, tidak membeli sesuatu apa pun dari mereka, dan tidak menikah dengan mereka.
Ibu kita Sayyidah Khadijah dan suaminya yang mulia tidak dapat keluar menuju daerah teritorial golongan Abi Thalib. Tapi keadaan sangat mendesak, sehingga mereka harus meninggalkan rumah tercinta yang telah dihuni olehnya selama beberapa tahun. Ketika itu Khadijah telah memasuki masa tua yang tak sanggup menahan penganiayaan dan kekerasan mereka. Jika tak bukanlah Khadijah lantas siapa lagi yang akan melakukannya. Selama masih hidup Khadijah adalah seorang istri yang tak jemu-jemu menguatkan suaminya, dengan motivasi kejujuran dan keikhlasan. Itulah yang selalu diingat oleh baginda disetip saat dan selamanya tak akan pernah terlupakan.
Masa sulit ini berlangsung selama tiga tahun lamanya. Tetapi kesulitan itu gagal di hadapan kesabaran dan keimanan yang sungguh-sungguh. Setalah masa itu berakhir nabi Saw pulang kembali ke rumahnya di tanah haram Makkah bersama istrinya, wanita mukmin yang penyabar yang senantiasa mengerahkan jiwa raganya bagi nabi di setiap cobaan. Waktu tidak lagi memberi kekuatan bagi Khadijah pada umurnya yang ke-65 tahun.
Setelah usainya masa pemboikotan enam bulan kemudian pamannya nabi(Abu Thalib) meninggal dunia. Abu Thalib adalah paman yang menjadi bapak angkat, teman, penanggung jawab, sekaligus penjaga nabi dari kejahatan kaum kafir Quraisy. Sayyidah Khadijah tidak terlihat saat pemakaman Abu Thalib. Ternyata Khadijah sedang berpamitan pada dunia (sakaratul-maut) di tempat tidurnya. Semenjak itu baginda nabi terus berada di samping Khadijah untuk menjaga dan memberi ketenangan baginya dalam menghadapi sakaratul-maut dengan mengabarkan kebahagiaan yang akan Khadijah dapatkan di akhirat. Tiga hari lamanya Khadijah dalam keadaan sekarat dan akhirnya ruh melepaskan diri dari jasadnya di hadapan suami yang ia cintai sejak pertama kali berjumpa. Dan di hadapan nabi yang Khadijah benarkan pertama kali dan mengimaninya pertama kali sejak malam lailatul-qadar , dan berjuang bersama sampai hembusan nafas terakhir dalam hidup, dialah yang memberi ketenangan dan perlindungan bagi nabi Saw hingga jiwanya yang tenteram kembali pada tuhannya dalam keadaan ridho dan diridhoi. Akhirnya nabi mengebumikan Khadijah Ra dengan penuh kesedihan. Diperkirakan Khadijah wafat tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah dan nabi menamakan tahun ini dengan nama ‘ammul-huzni yang artinya tahun kesedihan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar