Minggu, 17 Februari 2019

Antara Mushibah dan Anugerah

ANTARA MUSHIBAH DAN ANUGERAH

 Kalau benar musibah di Anyer kemarin karena pendiskriminasian terhadap ulama oleh pihak pemerintah, berarti tuhan salah sasaran menghukum mereka yang tak bersalah. Terus kita yang gak kena bencana emangnya gak punya dosa?

  Allah telah menetapkan bencana itu terjadi ditempat dan waktu yang ia inginkan, dengan serangkaian sebab akibat yang begitu rumit untuk dimengerti. Serangkaian sebab dan akibat ini dalam teologi islam namanya "adat" atau lebih sering kita kenal dengan sebutan "sunnatullah", sedangkan para cendekiawan barat menyebutnya "kasualitas". Dan dibalik kasualitas yang rumit ini tidak terlepas dari peranan penting "kausa prima" (sebab utama) atau "musabibil asbab" (yang menyebabkan sebab) siapa itu kausa prima jawabnya dialah allah yang menciptakan alam semesta dan segela keteraturan dan peraturan yang terjadi di dalamnya.

Menurut Auguste Comte, dalam menanggapi kejadian alam manusia mengalami tiga fase corak pemikiran berdasarkan tiga fase corak teologisnya:

1. Fase Teologis

Tahap teologis secara spesifik jumalahnya ada tiga yaitu ;
a. Animisme
    kepercayaan terhadap roh dan benda-benda yang di anggap memiliki kekuatan magis

b. Politeisme
    kepercayaan atas banyaknya tuhan atau dewa yang memiliki kekuatan adi kodrati dalam mengurus alam

c. Monoteisme
     Kepercayaan pada tuhan yang tunggal
Dalam tahap teologis manusia cenderung menanggapi gejala alam dengan pikiran yang rigit dan absolut.
Misalnya ketika ada tsunami orang-orang pada fase ini akan menjawab "ini terjadi karena dewa laut sedang marah" dsb.

2. Fase Metafisik
     Jika di masa teologis orang-orang hanya percaya dengan doktrin teologis yang mereka anut tanpa mempertanyakannya. Di masa ini orang-orang mulai mempertanyakan kebenaran suatu doktrin dan mencari bukti-bukti faktual tentangya.

3. Fase Positif
     Di tahap ini orang-orang mulai beranggapan bahwa tiada gunanya untuk mempertanyakan pengetahuan atau doktrin yang mutlak baik secara teologis maupun metafisik. Di tahap ini orang-orang mulai mencari hukum atas segala sesuatu yang menyebankannya terjadi dengan berbagai macam eksperimen dan obsevasi sehingga menghasilkan fakta-fakta yang dapat dipertanggung jawabkan keilmiahannya.

   Intinya corak pemikiran manusia dari masa kemasa akan semakin spesifik dengan mencari sebab-sebab terdekat yang mendasari terjadinya suatu gejala alam.

Saya ilustrasikan Budi dipukul Didi sampai sampai kepalanya benjol. Pas pulang kerumah Budi ditanya ibunya "kenapa kepalamu benjol nak?"
Daftar jawaban budi menurut tiga fase pemikiran manusia:

a. "Kepala saya benjol karena udah takdirnya"

b. "Kepala saya benjol karena di pukul Didi di Sekolah"

c. "Kepala saya benjol karena terjadi benturan hebat yg di jotoskan didi sehingga membuat syaraf yang berada di kulit menjadi shok dan akhirnya mengeluarkan cairan yang menumpuk di area yang terpukul".

       Kalau ada orang yang mengatakan
Musibah di Anyer dan  Banten kemarin disebabkan karena pendeskriminasian Ulama oleh pemerintah, opini ini sangatlah tidak bisa diterima karena si pengucap menghubung-hubungkan sebab yang jauh dan belum tentu benar kepada gejala alam yang terjadi. Saya teingat ucapan guru besar Kh. Adang Badrudin "kalau ngomong pake syari'at tapi hati tetap hakikat" mungkin ini yang paling aman.

      Bila mereka melandaskan ucapan nya pada Al-Qur'an yang menceritakan umat terdahulu yang di binasakan karena dosa-dosanya. Maka perlu diketahui oleh sodara-sodara sekalian bahwa yang terpenting dalam memahami sejarah adalah pengambilan pesan atau 'Ibrah dalam cerita. Karena cerita hanyalah metode untuk menyampaikan pesan.

       Kalau memang bencana kemarin adalah adzab Allah karena ulah  pemerintah yang bersikap zhalim kepada Ulama, mengapa Allah tak kenakan bencana ini kepada pemerintah saja.

Kalau memang bencana kemarin itu adzab bagi mereka yang terkena bencana mengapa kita yang lebih banayak dosa tak ikut serta dalam penderitaan mereka.

   Mungkin saja orang yang terkena mushibah itu sedang mendapat anugerah karena syahid dalam bencana.
Dan mungkin saja kita sedang mendapat bencana dalam anugerah.
خف من وجود إحسانه إليك ودوام إساءتك معه أن يكون ذلك استدراجاً سنستدرجهم من حيث لا يعلمون

Artinya, “Takutlah pada kebaikan Allah kepadamu di tengah keberlangsungan durhakamu terhadap-Nya karena itu bisa jadi sebuah tipudaya (istidraj) seperti firman-Nya, ‘Kami memperdayakan (mengistidrajkan) mereka dari jalan yang mereka tak ketahui.'

#ngebul_jasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar