LANGIT
Bima merangkak ke pangkuan ayah yang tengah asik menonton tingkah laku ikan hias di aquarium.
"Yah,benarkah langit buatan Allah?"
"Iya" jawab ayah singkat.
"Gimana cara buatnya yah?" Bima bertanya lagi.
Seketika Ayah bengong ditanya seperti itu, karena Ia tahu yang bertanya itu anak nya sendiri yang masih kecil. Ayah tidak bisa menjawab dengan memberikan dalil `kun fayakun` seperti para ustadz, begitu pula Ayah tidak bisa menjelaskan Allah maha kuasa yang segala kehendaknya pasti terwujud.
Sebenarnya Ayah bisa menjelaskan bahwa Allah itu sakti, karena Bima sudah tahu kata sakti di dongeng-dongeng yang pernah ayah sampaikan-Raja yang sakti, ksatria sakti dll. Tapi bila di jawab seperti itu, Bima pasti akan menanyakan lagi sesuatu yang lebih dalam dari itu yakni "dari apa langit dibuat nya".
Ayah mengerti bahwa Bima sedang menjadi seorang filosof yang belum mengerti cara jawaban Ayah sekarang. Atau Dia sudah menjadi filosof yang ingin tahu asal-usul kehidupan alam semesta.
"Ada kalanya Ayah tidak harus menjawab, walau ayah ingin menjawab. Kadang kala Ayah harus memendam pertanyaan, walau harus dipertanyakan."
"Apa langit itu di terbangkan sama Allah?" Shinta ikut bertanya sambil menemplokan jidat di kaca aquarium
Sangat cemerlang sekali pertanyaan-mu, nak. Seperti air yang keluar dari keran yang tak tersumbat apapun.
Baik Bima, atau Shinta begitu pula Ayah semua punya rasa ingin tahu. Apa yang ada di depan, apa yang tergeletak di samping, apa yang terbang di atas, apa yang bergeser di bawah, kita semua ingin tahu apa yang menyebabkan itu semua. Sejatinya kita adalah juru tanya yang tak terikat oleh ruang dan waktu.
Tapi pada suatu waktu, sebagai mana yang tengah ayah alami sekarang, seakan-akan ada tangan gaib yang begitu kuat membungkam mulut ayah. Sampai ayah menjadi orang tolol di depan kalian padahal ayah bisa menjawab.
"Jadi digimanain langit itu?" Bima memojokan Ayah agar buka suara.
"Ditiup nak, ditiup PUAH...jadilah langit."
Maksud Ayah ingin menerjemahkan ayat "kun fayakun" menggunakan bahasa bocah agar mereka mengerti.
"Berarti langit bau dong?"Shinta berkomentar. Ayah pun kaget seperti tersambar petir mendengar komentar anak putri nya.
Tapi untung nya, Bima lebih pintar dari Shinta sehingga Bima langsung membantah komentar-nya "kan Allah gak pernah makan jengkol, iya kan yah?"
Sabtu,15-juni-2019